01 Januari 2013

Asaku di Malaysia #1




“Mungkin salah satu alasan mengapa Allah SWT melimpahkan
rahmat-Nya kepada penduduk negeri ini adalah ketaatannya kepada pemimpin”.

Tak banyak kebisingan di jalan raya, lalu lintas yang teratur, pengendara yang santun, udara yang segar dan kebersihan kota yang terjaga adalah mungkin menjadi penyebab cintaku kepada negeri ini. Malaysia memang bukan negeri asalku. Tapi ia cukup membuatku mengerti hakikat kemakmuran dan kesejahteraan rakyat adalah segalanya. Darinya aku juga mendapat pelajaran berharga bahwa pemimpin haruslah ditaati dan dicintai. Kondisi yang begitu kontras dengan keadaan bangsaku saat ini.
Pagi itu, mentari menyambutku dari celah jendela apartemen saudaraku bang Dedi Sanjaya yang sedang menempuh studi pascasarjana disana. Semilir angin seakan menyambut pagi baruku di Malaysia, suasana bersahabat yang sangat nyaman. Serasa akulah yang sedang menempuh studi disana. Tidak ada kebisingan, hingar bingarnya kehidupan dan semuanya terasa begitu sederhana dan berjalan apa adanya. Semuanya benar-benar dikondisikan untuk kegiatan keilmuan dan pembelajaran. Mahasiswa sibuk mengurus dirinya sendiri untuk sarapan, kuliah, tugas atau bahkan hiburan yang mereka adakan dengan teman-teman senegara mereka.  Pagi itu aku hanya mengamati kehidupan dikampus abangku, bang Dedi.
Universiti Utara Malaysia atau biasa dikenal masyarakat internasional sebagai UUM, berlokasi jauh di pelosok perbatasan Malaysia-Thailand. Tempatnya yang berada di utara Malaysia membuat kampus ini seakan menjadi intan di lautan yang dalam. Kampus ini juga merupakan salah satu kebanggaan warga Malaysia sebagai kampus nomor wahid dalam ilmu manajemen dan ekonomi perbankan. Tak heran, banyak mahasiswa internasional dari berbagai negara di dunia datang berguru kesini khusus untuk belajar lebih dalam ilmu manajemen dan ekonomi.
Apa yang dapat kita ambil pelajaran dari UUM adalah mereka begitu paham akan konsep lingkungan yang sangat berperan membentuk mahasiswa (peserta didik). Padahal konsep ini telah dikenalkan oleh Ki Hajar Dewantara kurang lebih satu abad silam. Konsep ini biasa kita kenal dengan nama “Trilogi Pendidikan”. Akan tetapi mengapa kita justru meninggalkan konsep yang telah jelas teruji dan berdampak nyata pada perkembangan dunia pendidikan kita?



(bersambung)

01 November 2012

Kisah Seorang Tukang Batu

     Alkisah pada zaman dahulu kala hiduplah seorang tukang batu yang sehari-hari bekerja memahat batu dikaki gunung. Setiap hari dia pergi pagi pulang petang untuk memecah batuan di kaki gunung dan dijual ke pasar dimana tempat segala jenis batu dijual. Suatu ketika, si tukang batu berdoa kepada Tuhan agar dinaikkan derajat hidupnya dan diangkat menjadi raja. Tuhanpun mengabulkan doa sang tukang batu dan menjadikannya raja. Seketika itu ia pun menjadi raja dan memiliki istana yang megah serta para prjurit yang gagah. Sang raja yang dahulu tukang batu kini menjadi raja yang memiliki kekuasaan dan wewenang atas suatu bangsa. 
    Ketika ia menjadi raja, si tukang batu tadi pun masih terbesit dibenaknya untuk menjadi matahari. Pasalnya matahari lebih berkuasa atas raja. Matahari mampu membuat raja kepanasan dan seluruh negeri menjadi kekeringan. Maka sang raja pun bermohon kepada Tuhan agar kiranya ia diubah lagi menjadi matahari. Lalu Tuhanpun mengabulkan doa sang raja. Ia berubah menjadi matahari. Sang raja yang tadinya memerintah rakyatnya, kini menjadi matahari yang menyinari bumi dan negerinya. Sang surya pun tidak lagi membuat negerinya kekeringan, ia membagi sinarnya merata ke seluruh pelosok negeri di dunia ini.
      Akan tetapi matahari pun masih terkalahkan oleh awan. Awan mampu melindungi makhluk Tuhan yang ada di bumi dari sinar menyengat sang surya. Awan mampu memberikan kesejukan dan ketenangan bagi siapapun yang berlindung dibawahnya. Awan mempu memberikan itu semua bagi siapapun yg berlindung dibawahnya. Lalu sang surya pun meminta kepada Tuhan agar diubah menjadi awan. Tuhanpun mengubahnya menjadi awan. 
      Sang surya yang telah menjadi awan ini pun merasa sangat bahagia karena doanya dikabulkan Tuhan untuk berubah menjadi awan. Dengan menjadi awan, ia dapat melindungi negeri dan rakyatnya dari sengatan sinar matahari.
       Tetapi hal ini tetap membuat awan selalu tidak puas dengan apa yang telah dimintanya kepada Tuhan. Suatu ketika, awan melihat ada sekumpulan angin ribut yang membuat negeri sang raja, yang kini menjadi awan, menjadi porak-poranda. Ternyata awan kalah dengan angin. Angin mampu menggeser awan yang tenang. Angin mampu memporak-porandakan bangunan yang gagah, angin pun mampu memberi kesejukan ditengah sengatan sang surya.
       Sang awan pun meminta kepada Tuhan agar dijadikan angin. Karena dengan menjadi angin ia mampu menggeser awan dan memberikan kesejukan kepada seluruh makhluk di bumi. Tuhanpun menjadikannya angin. 
        Angin pun menjadi gembira karena Tuhan mengabulkan doanya kembali. Ia mampu terbang berhembus kemanapun ia suka. Ia mampu masuk kedalam setiap ruang yang tak dapat ditembus oleh makhluk-Nya di dunia. Ia mampu meluluhlantahkan apa yang ia suka. Ia pun mampu memberikan kesegaran dan kesejukan ditengah-tengah padang pasir yang panas menyengat.
       Akan tetapi ada satu benda yang tak mampu digeser oleh angin disebabkan karena benda itu begitu besar dan kokoh diciptakan Tuhan. Dialah gunung. Angin tak mampu menggeser gunung meskipun ia telah berhembus kencang. Lalu angin pun berdoa kembali kepada Tuhan untuk menjadi gunung. Dengan sabar Tuhan lagi-lagi mengabulkan permintaan sang angin untuk menjadi gunung. 
       Ia pun kembali lagi merasa sangat bahagia karena Tuhan lagi-lagi mengabulkan doanya untuk menjadi gunung. Gunung tak mampu digeser oleh angin, gunung adalah paku bumi yang kokoh. Gunung juga dapat meluluhlantahkan penduduk suatu negeri bila ia telah mengamuk. Sang angin bersyukur kepada Tuhan telah diciptakan menjadi gunung.
      Keeseokan harinya ketika ia menjadi gunung, datanglah seorang tukang batu dari sebuah desa untuk mengambil dan memecah batu di kaki gunung. Tukang batu itu datang dengan membawa sebilah martil dan kampak dan beberapa ranting kayu yang baru saja diambilnya dari hutan. Sang gunung terkejut melihat tukang batu yang berada tepat dikakinya dan mencuri batu-batuannya tanpa seizin sang gunung. Gunung tak mampu banyak bicara karena ia tidak diberikan kemampuan oleh Tuhan untuk berkomentar dan berbicara. Perlahan tapi pasti tukang batu dari desa kecil tersebut pergi pulang membawa batuan yang telah diambilnya dari gunung tersebut.
        Apa yang mungkin bisa kita petik dari cerita diatas adalah bahwa Tuhan telah menciptakan kita dengan segala kelebihan dan kekurangan untuk disyukuri. Dia tidak pernah meminta kita mencapai kesempurnaan seperti Dia tetapi apa yang Dia minta adalah sesungguhnya sebuah kesadaran diri bahwa kita adalah makhluknya yang lemah di jagad raya yang maha luas ini. Jika Dia berkehendak, semua bisa terjadi sesuai dengan yang diinginkannya. Wallahu 'alam bisshowab
       
 

31 Oktober 2012

Think Positively!




Al jaddu bil jiddi wal hirmaanu bil kasali fanshab tushib ‘an qariibin ghayatal ‘amali”

(Kesuksesan akan didapatkan dengan kesungguhan dan kegagalan terjadi akibat kemalasan. Bersungguh-sungguhlah maka kamu akan mendapatkan dengan segera apa yang kamu cita-citakan).
-Sholahuddin As-Supadi, wafat 764 H-

Pepatah Arab diatas cukup menjadi cambuk bagi kita untuk meraih kesuksesan dengan penuh semagat.  Meskipun kriteria sukses masing-masing orang berbeda, sangat tergantung pada keinginan dan cita-cita masing-masing. Seseorang yang telah berhasil mencapai sesuatu bisa jadi dianggap orang lain belum mencapai apa-apa. Perbedaan pandangan ini sebenarnya wajar terjadi karena perbedaan pola pikir masing-masing. Sukses adalah ketika orang mampu mewujudkan apa yang ia inginkan. Seseorang yang bercita-cita ingin menjadi dosen, misalnya, disebut sukses ketika ia mampu mewujudkan keinginannya itu dan menjadi dosen. Disitulah kesuksesan dirinya. Begitu juga orang yang bercita-cita ingin punya rumah. Ketika ia mampu mewujudkan rumah tersebut, ia bisa mendefinisikan dirinya sebagai orang yang sukses.
Lalu bagaimana kiat-kiat untuk meraih kesuksesan baik di dunia dan di akhirat? Berikut ada lima tips yang mungkin bisa dicoba dalam menjalani kehidupan meraih kesuksesan. Pertama, bersihkan hati dan fikiran. Hidup manusia adalah perjuangan untuk memenangkan pertarungan suci antara akal dan fikiran yang sehat dengan hawa nafsu yang dimilikinya. Untuk bisa memulai pertarungan dengan hawa nafsu dalam kehidupan sehari-hari, orang mesti mulai mengupayakan kebersihan hati dan fikirannya. Mulailah untuk membersihkan hati dan fikiran dari berbagai sifat dan fikiran negative tentang orang lain atau lingkungan sekitar. Sebab kebaikan itu memancar dari diri sendiri kepada lingkungannya. Jika seseorang dipenuhi dengan niat kebaikan dalam mengerjakan sesuatu, kebaikan itu bisa menular kepada orang-orang dan lingkungan sekitarnya sehingga secara bergelombang akan menimbulkan efek bola salju kebaikan yg semakin lama semakin membesar.
Kedua, selalu berfikir positif. Sebuah pepatah Arab mengatakan; Jika kita melihat sesuatu dengan positif, maka semuanya akan terlihat baik. Sebaliknya jika kita melihat sesuatu dengan negative, maka semua yang tampak adalah kejelekan. Kunci utama dari kesuksesan manusia adalah cara dia mengelola fikirannya. Jika kita ditimpa musibah misalnya, cara paling mudah untuk memahami peristiwa tersebut adalah dengan melihat makna dan pelajaran yang bisa diambil darinya. Dengan demikian kita menyadari dengan benar bahwa dibalik semua persitiwa yang terjadi, yang terburuk sekalipun, ada pelajaran bagi kita untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang.
Ketiga, jalani hidup dengan optimis. Setiap orang pada dasarnya mempunyai kesempatan yang sama. Yang membedakan adalah orang yang berani mengambil kesempatan yang dimilikinya karena percaya dengan kemampuannya, sementara orang lain tidak berani mengambil kesempatan yang ada karena tidak mempunyai kepercayaan diri bahwa ia mampu melakukannya. Jangan pernah menyerah karena akan selalu ada harapan! Hidup ini akan selalu menghadapi berbagai persoalan yang terkadang datang silih berganti, hingga suatu saat, mungkin kita merasa berada pada satu titik dimana kita tidak bisa lagi menghadapi persoalan tersebut. Jika kita mendapatkan prestasi, sekecil apapun prestasi itu, syukuri dan  nikmatilah! Jika perlu berilah reward (hadiah) untuk diri sendiri atas prestasi yang pernah dikumpulkan. Ini akan memacu kita terus optimis.
Keempat, jangan takut gagal. Ketakutan Anda dalam mencoba merupakan awal dari kegagalan Anda mencapai sukses. Cobalah untuk melakukan apapun yang Anda inginkan atau Anda anggap perlu dalam mencapai jalan sukses dan jangan pernah takut melakukan kesalahan, niscaya Anda akan menemukan kesuksesan tersebut. Cara paling mudah untuk menghilangkan ketakutan dalam fikiran adalah dengan menghadapi ketakutan itu secara langsung. Jika Anda takut menghadapi ketinggian misalnya, untuk menghilangkan ketakutan tersebut cobalah langsung terbang di ketinggian atau berdiri di gedung yang tinggi. Sama halnya jika Anda takut air; cara paling mudah adalah dengan langsung menceburkan diri ke dalam air. Jangan takut gagal!
            Kelima, bangun percaya diri. Pepatah arab mengatakan, “Idza shadaqal ‘azmu wadhahas-sabiilu’. Artinya jika benar kemauannya niscaya terbukalah jalannya. Tidak perlu malu ataupun  menyesal jika apa yang kita usahakan belum berhasil. Justru hal itu menjadi momentum bagi kita untuk bangkit dan melesat jauh kedepan dengan kecepatan yan glebih tinggi. Pada akhirnya, percaya diri itu tidak bisa dibeli dimanapun. Ia ada didalam hati dan fikiran kita masing-masing. Cukuplah kita mengubah pola pikir, mencoba hal-hal baru dan menghilangkan ketakutan-ketakutan yang tidak perlu. JIka masih kurang, nekat saja. Pasti Tuhan tidak akan menceburkan kita kedalam satu masalah tanpa memberikan jalan keluar. Selamat mencoba.

07 Agustus 2012

Ramadhan nan Damai di Kampung Damai

Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata arti kesederhanaan, keikhlasan, berdikari, ukhuwah islamiyah dan kebebebasan yang terpancar dari bumi kampung damai ini, Darussalam. Menjelang usianya ke 80 tahun, aku pun berada pada kelas senior satu tingakat di bawah senior tertinggi. Ya, kelas lima KMI memang diberikan amanah sebagai pengurus adik-adik juniornya di asrama, klub-klub olahraga, bahasa dsb. Tapi ada yang menarik bagiku pada tahun ini, tahun ketigaku di kampung ini. Tahun dimana aku akan merayakan Ramadhan dan Idul Fitri di kampung ini, tidak di kampung halaman bersama handai taulan.

Liburan pun dimulai, lonceng panjang tepat pukul 24.00 malam dibunyikan dengan lantangnya oleh kakak senior bagian keamanan. Pertanda bahwa segala disiplin sudah tidak berlaku lagi bagi mereka dari kelas satu sampai kelas empat KMI. Tapi bagi mereka kakak-kakak kelas lima dan enam, tunggu dulu, disiplin pondok tetap berlaku bagi mereka sebagaimana layaknya pada hari-hari biasa. Aku berkumpul bersama teman-teman seperjuangan dikamar yang sekaligus juga 'diwan' kami sebagai penggerak kursus-kursus bahasa seantero pondok. Kami habiskan malam dengan berkumpul bersama dengan kakak-kakak kelas enam yang sedang berkemas-kemas menyiapkan segala sesuatunya untuk keprluan study tour kelas akhir.

Waktu berlalu, hari berganti, pertanda bahwa sebentar lagi kami akan memasuki awal ramadhan di tahun ini. Dalam hati aku berjanji, ini adalah ramadhan pertama dan terakhirku di tempat ini. Aku tidak mau ramadhan lagi disini, tidak mau dan tidak akan, gumamku. Ada kebiasaan unik di pondok modern, bahwa ketika menjelang berbuka puasa, para santri senior yang bermukim di pondok, menunggu kurma cuma-cuma yang akan dibagikan oleh bagian ta'mir masjid setengah jam menjelang berbuka puasa. Uniknya, hampir semua santri ngantri berdesak-desakan hanya untuk mendapatkan satu bungkus kurma plus satu gelas aqua plastik minuman dingin khas buatan 'ta'mir'.

to be continued

Sudah Seriuskah Kita Beragama?



            Momentum puasa identik dikatikan dengan dalil dari Surat Al-Baqarah 183-187. Namun demikian bila kita perhatikan, tidak keseluruhan ayat tersebut mengulas tentang puasa. Pada ayat 184; syahru-romadhoona alladzi unzila fiihi-l-qur’ana hudan linnaasi wa bayyinaatin mina-l-hudaa wal furqaan. Ayat ini mengulas tentang kitab suci kita Al-Qur’an. Oleh karena itu, secara garis besar, surat Al-Baqarah 183-187 tersebut tidak hanya berbicara tentang puasa akan tetapi lebih dari itu tentang kitab suci Al-Qur’an dan ketuhanan.
            Bila kita telisik, ada kata-kata hudan dan wa bayyinaatin mina-l-huda wal furqaan pada frasa ayat 184 tersebut. Artinya Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Karena Allah tidak main-main dalam menciptakan manusia dan seisi jagad raya. Karena tidak ada ciptaan-Nya didunia ini yang sederhana. Alam semesta ini merupakan maha karya sang pencipta yang tidak sederhana.  Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia (linnas), bukan untuk umat Islam saja, akan tetapi umat manusia secara keseluruhan (general). Akan tetapi mirisnya kita umat Islam di Indonesia yang beragama Islam ini adalah tidak adanya keseriusan beragama.
            Keseriusan beragama yang saya sebut disini adalah ditengah-tengah padatnya populasi umat Islam di Indonesia sebagai kaum mayoritas di negeri ini, hanya berapa persenkah yang mengerti dan paham terjemahan dan tafsir Al-Qur’an secara komprehensif? Sudah berapa persenkah kita umat Islam di Indonesia ini yang mengamalkan dari uraian tafsir tersebut? Mirisnya lagi, sedari kecil kita terlalu sering dicekoki dengan  iming-iming nominal pahala dalam membaca Al-Qur’an. Sehingga kita terjebak dalam paradigma angka yang selalu mengkalkulasikan nominal pahala membaca Al-Qur’an dan tujuan akhirnya adalah masuk surga. Bagaimana kita akan masuk surga bila kita tidak dapat memahami dan mengamalkan isi dan kandungan Al-Qur’an? Bagaimana kita akan masuk surga sementara kita tidak mengerti dan paham akan apa yang kita baca? Inilah yang saya sebut ketidakseriusan kita beragama di Indonesia khususnya.
            Hal ini diperparah lagi dengan kondisi ulama kita dewasa ini. Lihatlah layar kaca kita pada setiap bulan Ramadhan yang selalu diisi dengan ceramah-ceramah yang penuh guyon dan tidak serius? Agama adalah titah Tuhan dengan keseriusan! Bukan sebagai bahan guyonan dan lelucon semata meskipun terkadang itu salah satu wasilah dalam menyampaikan ayat-ayat-Nya. Dewasa ini, ulama yang diterima ditengah-tengah masyarakat adalah dia yang pandai membuat lelucon ditengah-tengah ceramahnya, dia yang pandai mengombinasikan fenomena disekelilingnya menjadi bahan lelucon dalam ceramahnya. Sungguh sebuah fenomena yang tidak ada keseriusan didalamnya! Padahal Allah SWT menurunkan Al-Qur’an tidak dengan lelucon sedikitpun.
            Menurut hemat saya, ini merupakan masalah serius bangsa ini yang merupakan penganut Islam terbesar di dunia. Kita hanyut dalam animo masyarakat yang lebih menyukai lelucon dan guyonan, kita hanyut dalam keterbuaian sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar. Kita hanyut dengan semua itu yang membuat arah dan tujuan dakwah pun semakin buram. Umat semakin sulit membedakan yang hitam dan putih, semuanya serba abu-abu karena keterbuaian kita dan ketidakseriusan ulama dalam mengejawantahkan ayat-ayat-Nya. Pada akhirnya, dalam sebuah pengambilan keputusan dalam lingkup yang lebih besar, umat hanya bisa mengatakan ‘kami ikut ustadz si Fulan’ karena kebutaan umat akan semua ajaran-ajaran Islam yang tersurat dalam Al-Qur’an.
            Apa yang ingin saya tegaskan adalah bahwa Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam, bukan hanya sekedar dibaca teks Arabnya akan tetapi lebih dari itu mengkaji terjemahan dan tafsirnya juga merupakan hal yang wajib dilakukan oleh setiap umat Islam. Apa yang dilakukan oleh orang-orang di Benua Eropa saat ini adalah mereka membaca Al-Qur’an akan tetapi bukan teks Arabnya melainkan terjemahannya dalam bahasa mereka. Sehingga setelah membaca terjemahan Al-Qur’an tersebut, lahirlah muallaf-muallaf baru yang tanpa paksaan masuk kedalam Islam. Allahu Akbar! Semoga kita termasuk kedalam umat yang tidak hanya pembaca Al-Qur’an tetapi juga memahami dan mengamalkan isi dan kandungan dari Al-Qur’an itu sendiri sehingga jelaslah perbedaan antara umat Islam yang mengamalkan isi dan kandungan Al-Qur’an dan yang tidak. Inilah yang dimaksud dalam akhir ayat 184 tersebut; wa bayyinaatin mina-l-hudaa wal furqaan.

19 November 2011

KH. Imam Zarkasyi, Pembaharu Pendidikan Pesantren Modern di Indonesia

Sekilas tak banyak yang tahu tentang tokoh yang satu ini. Sepak terjangnya di dunia pendidikan sudah tidak diragukan lagi dikalangan para santri dan alumni Gontor. Sosoknya yang sederhana dan bersahaja mampu menjadi inspirasi bagi siapapun yang pernah mengenyam pendidikan bersamanya dan menikmati tulisan-tulisannya. Dialah KH. Imam Zarkasyi salah satu dari tiga pendiri Pondok Modern Gontor Ponorogo yang hingga kini terus menelurkan pejuang-pejuang yang selalu berkontribusi untuk negeri.

Pak Zar, begitu beliau dahulu disapa oleh santri-santrinya, memang sosok yang berkharisma tinggi. Kesabarannya dalam mendidik, kesederhanaannya dalam pola hidup serta ketulusannya dalam mentransfer ilmu kepada santrinya merupakan salah satu pemikat mengapa Pak Zar selalu hidup dihati santri-santrinya. Pak Zar memang telah tiada, akan tetapi ajaran-ajarannya tentang nilai-nilai kehidupan-kebangsaan akan tetap hidup dihati para santri dan alumni yang mencintainya.

Lahir di desa Gontor pada 21 Maret 1910 silam, Zarkasyi kecil mulai menapaki jenjang pendidikannya di Sekolah Dasar Ongko Loro, Jetis, Ponorogo. Tak hanya itu, sosok yang cinta ilmu ini juga mengenyam pendidikan di tiga tempat yang berbeda yaitu Pondok Pesantren Josari Jetis, Ponorogo, Pondok Joresan Ponorogo, Sekolah Mamba’ul Ulum dan masih di kota yang sama pula meneruskan ke sekolah Arabiyah Adabiyah pimpinan Ustadz M.O. Hasyimi sampai tahun 1930. Selama belajar di sekolah-sekolah tersebut (khususnya sekolah Arabiyah Adabiyah) beliau mendalami bahasa Arab. Diantara guru yang mendidik, membimbing dan mendorong beliau selama belajar di Solo adalah Ustadz Hasyimi, bekas pejuang di Tunisia. Tidak lama setelah menyelesaikan pendidikannya di Solo, beliau meneruskan ke Kweekschool di Padang Panjang sampai tahun 1935 (Biografi Trimurti: 2007:13).

Proses perjalanan pendidikan Pak Zar memang panjang. Demi ilmu, beliau rela menapaki kaki hingga ke tanah Sumatera, tepatnya di Padang Panjang yang kala itu memang menjadi central of excellence pendidikan nusantara. Disana beliau bertemu dan berguru dengan alim ulama terkenal seperti KH. Mahmud Yunus. Setelah tamat belajar di Kweekschool, beliau diminta menjadi direktur Perguruan tersebut oleh gurunya, KH. Mahmud Yunus. Tetapi Pak Zar hanya dapat memenuhi permintaan dan kepercayaan tersebut selama satu tahun (tahun 1936), dengan pertimbangan meskipun jabatan itu cukup tinggi, tetapi ia merasa bahwa jabatan tersebut bukanlah tujuan utamanya setelah menuntut ilmu di tempat itu. Imam Zarkasyi dinilai oleh Mahmud Yunus memiliki bakat yang menonjol dalam bidang pendidikan, namun ia melihat bahwa Gontor lebih memerlukan kehadirannya.

Sepulang merantau dari Padang Panjang dan menyerahkan jabatannya sebagai direktur Pendidikan Kweekschool kepada KH. Mahmud Yunus, Pak Zar kembali ke Gontor. Pada tahun 1936 itu juga, genap sepuluh tahun setelah dinyatakannya Gontor sebagai lembaga pendidikan dengan gaya baru, Pak Zar segera memperkenalkan program pendidikan baru yang diberi nama Kulliyatu-l Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) dan ia sendiri bertindak sebagai direkturnya. Inilah cikal bakal Gontor baru dengan sistem modern yang telah dirancang oleh Pak Zar.

Perjalanan sejarah Pondok Modern Gontor sekalipun mengalami pasang surut. Lembaga Pendidikan yang berdiri tahun 1926 dan telah diwakafkan untuk umat Islam pada tahun 1958 ini kaya akan hitam-putihnya pengalaman dalam mendidik santri-santrinya. Sejak berdirinya 85 tahun yang lalu, Gontor telah banyak menyumbangkan pahlawan pendidikan, budayawan, intelektual dan negarawan untuk bangsa ini. Sebut saja Almarhum KH. Idham Chalid yang baru-baru ini diresmikan oleh Bapak Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pahlawan nasional, intelektual Almarhum Nurcholis Madjid yang biasa disapa Cak Nun, budayawan Emha Ainun Nadjib hingga negarawan Hidayat Nur Wahid merupakan hasil gemblengan Pak Zar di Gontor.

Dalam mendidik santrinya, Pak Zar menanamkan lima spirit yang harus dimiliki seorang santri yaitu keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiyah dan kebebasan dalam jiwa santri-santrinya yang biasa juga disebut Panca Jiwa Pondok Modern Gontor. Spirit inilah yang menjiwai diri santri sehingga segala sesuatu dari apa yang dilihat, apa yang didengar dan apa yang dirasakan adalah pendidikan.

Perjalanan karier Pak Zar tidak diragukan lagi. Beliau telah banyak menjabat dan mengantongi penghargaan baik nasional maupun internasional. Pak Zar pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Perencanaan Pendidikan Agama pada Sekolah Dasar Kementerian Agama (1951-1953), Kepala Dewan Pengawas Pendidikan Agama (1953), Ketua Majelis Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama (MP3A) Departemen Agama, Anggota Badan Perencana Peraturan Pokok Pendidikan Swasta Kementerian Pendidikan (1957). Selain itu pada tahun 1959, Pak Zar diangkat menjadi Anggota Dewan Perancang Nasional oleh Presiden Soekarno. Dalam percaturan internasional, Pak Zar pernah menjadi anggota delegasi Indonesia dalam peninjauan ke negara-negara Uni Soviet, pada tahun 1962. Sepuluh tahun kemudian, ia juga mewakili Indonesia dalam Mu’tamar Majma’ Al-Bunuth Al-Islamiyah (Muktamar Akademisi Islam se-Dunia), ke-7 yang berlangsung di Kairo. Di samping itu, beliau juga menjadi Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat.

Gagasan dan Cita-cita Pembaharuan KH. Imam Zarkasyi

Sebelum mendirikan lembaga pendidikan pesantren dengan corak yang modern, Pak Zar bersama pendiri Pondok Modern Gontor lainnya telah mengkaji lembaga-lembaga pendidikan yang terkenal dan maju di luar negeri, khususnya yang sesuai dengan sistem pondok pesantren. Ada empat lembaga pendidikan yang mereka kaji dalam rangka studi banding yang kemudian dikenal sebagai “Sintesa Pondok Modern”.

Pertama, Universitas Al-Azhar di Mesir, merupakan sebuah lembaga pendidikan swasta, dengan kekayaan wakafnya yang luar biasa, mampu bertahan bahkan berperan dalam apapun dalam perubahan waktu dan masa. Al-Azhar ini bermula dari sebuah masjid sederhana namun kemudian dapat hidup ratusan tahun dan telah memiliki tanah wakaf yang mampu memberi beasiswa untuk mahasiswa seluruh dunia. Kedua, Pondok Syanggit di Afrika Utara, dekat Libya. Lembaga ini dikenal karena kedermawanan dam keikhlasan pengasuhnya. Pondok ini dikelola dengan jiwa ikhlas dari pengasuhnya di samping mendidik murid-muridnya juga menanggung kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Ketiga, Universitas Muslim Aligarh yang membekali mahasiswanya dengan pengetahuan umum dan agama sehingga mereka mempunyai wawasan yang luas dan menjadi pelopor kebangkitan Islam di India. Universitas ini dikenal sebagai pelopor pendidikan modern dan revival of Islam. Keempat, masih juga di India yaitu Perguruan Santiniketan yang didirikan oleh seorang filosof Hindu, Rabendranath Tagore. Perguruan ini terkenal karena kedamaiannya meskipun terletak jauh dari keramaian tetapi dapat melaksanakan pendidikan dengan baik dan bahkan dapat mempengaruhi dunia. Kedamaian di perguruan tersebut mengilhami Darussalam (kampung damai) untuk Pondok Pesantren Darussalam Gontor.

Apa yang telah dirumuskan Pak Zar bersama beberapa pimpinan Pondok Pesantren Gontor hampir dari satu abad silam merupakan aset yang tidak ternilai harganya untuk Indonesia sekarang. Gontor dengan konsep pendidikannya yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan telah membawa angin segar ditengah hiruk pikuk mencari konsep pendidikan karakter negeri ini. Kita sadari bersama bahwa pendidikan kita masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Akan tetapi ini bukanlah alasan bahwa kita tidak mempunyai jati diri pendidikan di negeri ini. Bangsa ini memiliki sistem pendidikan yang asli Indonesia yang sejak dahulu kala telah ada di bumi ibu pertiwi ini, itulah pendidikan pondok pesantren. Seiring dengan perkembangan zaman, pondok-pondok pesantren yang tersebar di seluruh pelosok negeri tersebut masih terus menyumbangkan kader-kader pemimpin untuk negeri ini dikemudian hari. Saya yakin, masih ada Pak Zar lainnya di seluruh pelosok negeri ini yang terus berjuang untuk kemajuan negeri tercinta Indonesia. Wallahu a’lam bisshowab.